
SETIAP anak memang membutuhkan koreksi, tetapi tidak semua cara koreksi menghasilkan dampak yang sama. Ada koreksi yang memperkuat karakter, dan ada pula yang justru melemahkan semangat mereka.
Banyak orang tua tidak menyadari bahwa cara penyampaian bisa menentukan apakah anak menerima arahan atau justru menutup diri karena merasa terancam secara emosional.
Penelitian perkembangan anak menunjukkan bahwa koreksi bukan hanya soal benar atau salah, melainkan soal rasa aman. Anak tidak menolak arahan karena mereka tidak ingin belajar, melainkan karena mereka takut kehilangan koneksi dengan orang tua mereka.
Reaksi seperti menarik diri, menangis, atau membantah sering kali bukan bentuk perlawanan, melainkan perlindungan diri terhadap rasa malu atau takut.
Di sinilah peran Anda sebagai orang tua sangat penting. Ketika koreksi disampaikan dengan lembut dan terhubung secara emosional, anak akan merasa aman untuk belajar.