
Intinya, bukan kata-kata Anda yang menyakiti anak, melainkan bagaimana Anda menyampaikannya. Nada yang tinggi, mimik marah, dan ekspresi kecewa sering kali mengirim sinyal ancaman bagi anak.
Ketika koreksi dilakukan dengan cara yang aman, anak cenderung tumbuh menjadi pribadi yang lebih resilien secara emosional. Mereka terbiasa menerima arahan tanpa takut gagal atau disalahkan.
Sebaliknya, koreksi yang memalukan atau merendahkan dapat membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang mudah cemas atau menghindari tanggung jawab.
Tujuan Anda bukan menghindari koreksi, tetapi mengelola cara penyampaian agar tidak merusak hubungan. Dengan menjaga rasa aman anak, Anda justru memperkuat dasar emosional yang dibutuhkan untuk membangun karakter dan kemandirian mereka.
3. Membentuk Koneksi Sebelum Koreksi