
Pertanyaan seperti “Bagaimana perasaan orang lain saat itu terjadi?” atau “Apa langkah yang lebih baik menurut Anda?” membantu mengaktifkan bagian otak anak yang memproses empati dan pengendalian diri.
Dengan pendekatan ini, Anda bukan hanya memperbaiki perilaku, tetapi juga melatih kecerdasan emosional mereka. Anak belajar memahami konsekuensi, mengatur reaksi, dan mengambil tanggung jawab secara alami tanpa paksaan.
5. Mengakhiri Koreksi dengan Keyakinan dan Kasih
Setiap koreksi sebaiknya ditutup dengan penguatan positif. Ungkapan seperti “Saya mengoreksi karena saya percaya Anda bisa lebih baik” memberi pesan bahwa kesalahan tidak membuat anak kehilangan cinta atau nilai dirinya.
Ini membantu anak memisahkan kesalahan dari identitas mereka. Reassurance seperti ini membangun ketahanan emosional jangka panjang.