
Bagi para korban, yang hilang bukan sekadar bangunan. Itu adalah harapan yang disusun perlahan, terutama menjelang Hari Raya.
“Baru dua hari lalu saya belanja baju Lebaran untuk dijual. Sekarang semua hangus,” tutur Dedek (bukan nama sebenarnya), suaranya bergetar, matanya tak lepas dari sisa-sisa tokonya yang telah rata dengan tanah. Ia seperti kehilangan arah, tak tahu harus memulai kembali dari mana.
Cerita serupa datang dari Apau, pemilik warung sembako. Ia memperkirakan kerugiannya mencapai ratusan juta rupiah. Tidak hanya tokonya yang ludes, tetapi juga rumah di bagian belakang yang tak sempat diselamatkan.
“Listrik mati, air juga tidak ada. Kami cuma bisa lihat api makin besar,” katanya pelan. Ia mengingat betul bagaimana api bergerak cepat, dibantu material kayu dan tiupan angin yang membuat kobaran seperti melompat dari satu ruko ke ruko lain.
Upaya pemadaman berlangsung dramatis. Tim Fire Fighting PT Pertamina Patra Niaga RU II Sungai Pakning menjadi garda terdepan, dibantu UPT Damkar Bukit Batu, UPT Damkar Siak Kecil, serta warga yang bahu-membahu. Namun keterbatasan air dan akses menuju lokasi membuat api baru benar-benar dapat dikendalikan sekitar pukul 08.00 WIB, atau empat jam setelah pertama kali muncul.