
Selepas kunjungan dari rumah ke rumah, Afni melanjutkan safari Ramadan dengan berbuka puasa bersama masyarakat di masjid setempat. Suasana berlangsung sederhana dan hangat. Tidak ada menu istimewa yang dihidangkan, tidak ada protokol yang berlebihan. Ia duduk lesehan bersama warga, menikmati hidangan buka puasa apa adanya.
Perbedaan cara ini terasa begitu mencolok. Pada umumnya, safari Ramadan kepala daerah sering diwarnai rombongan panjang pejabat, mobil dinas yang berderet, bahkan pengawalan khusus. Namun malam itu di Dayun, sang bupati justru pulang larut dengan mengendarai sendiri sepeda motornya. Sebuah pemandangan yang mungkin jarang ditemui di daerah lain.
Apa yang dilakukan Afni Zulkifli memberikan contoh nyata bahwa safari Ramadan bisa menjadi ruang edukasi publik. Edukasi tentang pentingnya pemimpin turun langsung ke lapangan, tentang memimpin dengan empati, dan tentang menghidupkan nilai-nilai kesederhanaan dalam birokrasi.
Di tengah masyarakat yang kerap menilai pemimpin dari kedekatannya, pendekatan yang dilakukan Bupati Siak ini menghadirkan wajah kepemimpinan yang lebih membumi. Bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu tampil dalam gemerlap kemewahan atau dijaga jarak oleh protokol yang kaku.
Ramadan, akhirnya, bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Tetapi juga tentang menahan diri dari perilaku berlebihan, serta memperkuat rasa peduli terhadap sesama. Dan di jalanan Dayun yang sunyi menjelang malam itu, seorang bupati dengan sepeda motornya menjadi simbol bahwa pelayanan publik bisa dimulai dari cara yang paling sederhana, dengan hati yang tulus untuk mendengar dan hadir di tengah rakyatnya.***