
Menurut Azlita, rendahnya minat masyarakat menggunakan layanan digital menjadi salah satu penyebab pemerintah kepenghuluan tidak lagi memprioritaskan anggaran perawatan sistem tersebut.
“Masyarakat lebih memilih layanan manual secara langsung dibanding menggunakan SiKoncang,” katanya.
Ia juga mengungkapkan, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) operator di tingkat kepenghuluan serta persoalan jaringan internet turut menjadi hambatan utama program tersebut.
“Banyak operator di kepenghuluan yang belum memahami pengoperasian sistem. Selain itu, keterbatasan sinyal di beberapa wilayah juga menjadi kendala,” jelasnya.
Di sisi lain, berkurangnya anggaran dana kepenghuluan pada tahun 2026 membuat pemerintah Kepenghuluan tidak lagi mampu mengalokasikan biaya maintenance perangkat SiKoncang.