
Hampir seluruh masyarakat setempat, sekitar 99 persen menurut anggota kelompok pembudidaya, memiliki kolam ikan patin. Sebagian warga mengelola beberapa kolam, sementara lainnya memiliki belasan kolam yang ditempatkan di sekitar rumah, bahkan di antara tanaman kelapa sawit.
Julianto, anggota kelompok Mina Mani, menjadi salah seorang warga yang merasakan manfaat dari program pemberdayaan tersebut. Baginya, bantuan yang diberikan PHR tidak hanya membantu keberlangsungan usaha, tetapi juga mendorong kelompok pembudidaya menjadi lebih mandiri.
“Dengan adanya bantuan dari PT PHR, kelompok kami semakin mandiri dan sangat terbantu,” ujarnya.
Salah satu perubahan yang paling dirasakan adalah kemudahan dalam menyediakan pakan ikan. Sebelumnya, kebutuhan pakan menjadi bagian penting yang harus diperhitungkan dalam menjalankan usaha budidaya. Kini, kelompok sudah memiliki kemampuan memproduksi pelet secara mandiri.
Bahan bakunya relatif mudah diperoleh, yakni dedak atau bekatul yang dicampur dengan sisa ikan sortiran nelayan. Bahan tersebut kemudian diolah menggunakan mesin pembuat pakan hingga menjadi pelet siap digunakan.