
“Kondisi awal gedung sangat memprihatinkan. Yayasan diminta untuk merehabilitasi secara total. Setelah diperbaiki dan siap digunakan, barulah muncul perjanjian sewa sesuai aturan pemerintah daerah,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa ITR bukan lembaga berorientasi bisnis. Seluruh kegiatan operasional kampus tidak bertujuan mencari keuntungan, bahkan pemilik yayasan secara rutin menghibahkan dana pribadi sekitar Rp100 juta per bulan untuk membantu mahasiswa kurang mampu.
“Tidak ada satu rupiah pun dana dari pemerintah. Semua biaya pendidikan berasal dari keringat pribadi pemilik yayasan. Ini bentuk kepedulian untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi anak-anak Rohil,” tegasnya.
Menanggapi pemberitaan yang dinilai tidak berimbang, ITR menyayangkan sikap sejumlah media yang dianggap tidak memberikan ruang klarifikasi dan berpotensi menurunkan marwah dunia pendidikan di Rokan Hilir.
“Media seharusnya membantu memperkuat dunia pendidikan, bukan menggiring opini negatif yang dapat menghambat kemajuan satu-satunya perguruan tinggi di Kecamatan Tanah Putih,” ujarnya.