
KUBA (PRo) – Besarnya anggaran pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan untuk pembangunan kawasan pertanian di Kepenghuluan Sungai Panji-panji, Kecamatan Kubu Babussalam, Kabupaten Rokan Hilir, dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan utama yang dihadapi petani, yakni ketersediaan air dan akses jalan menuju areal persawahan.
Sejumlah petani mengaku hingga kini masih mengandalkan curah hujan untuk mengairi sawah. Kondisi tersebut menyebabkan tanaman padi rentan mengalami kekeringan saat musim kemarau dan terendam ketika curah hujan tinggi, sehingga berdampak pada penurunan hasil panen bahkan gagal panen.
Menurut petani, berbagai pembangunan yang telah dilakukan, seperti normalisasi saluran dan pembangunan box culvert, belum memberikan dampak signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan air bagi lahan pertanian. Bahkan, sebagian petani menilai normalisasi saluran justru mempercepat aliran air ke laut sehingga sawah lebih cepat mengalami kekeringan pada musim kemarau.
Salah seorang petani, Janto Sianturi, mengatakan pemerintah seharusnya memprioritaskan pembangunan yang langsung menyentuh kebutuhan petani, seperti peningkatan jalan usaha tani dan penyediaan sumber air.
"Yang paling dibutuhkan petani itu jalan menuju sawah dan sumber air. Selama ini yang banyak dibangun justru normalisasi saluran dan jembatan, sementara kebutuhan utama petani belum terpenuhi," ujar Janto kepada wartawan, Rabu (15/7/2026), di Kepenghuluan Sungai Panji-panji.