
Menurutnya, penyediaan air tidak harus melalui pembangunan irigasi atau waduk yang membutuhkan anggaran besar. Berdasarkan pengalaman petani, sumur bor dinilai menjadi solusi yang lebih sederhana, murah, dan efektif.
Janto memperkirakan satu unit sumur bor dengan kedalaman sekitar 30 meter dan biaya sekitar Rp3 juta mampu mengairi sekitar dua hektare lahan sawah.
"Kami sudah membuktikannya sendiri. Air dari sumur bor cukup untuk mengairi sawah, dan tanaman padi tumbuh dengan baik, terutama menggunakan bibit lokal," katanya.
Ia juga menyinggung program Indeks Pertanaman (IP) 200 yang dijalankan pada 2025. Menurutnya, program dua kali tanam dalam setahun tersebut tidak berjalan optimal karena tidak didukung ketersediaan air yang memadai.
"Ketika kemarau panjang datang, sawah kering dan padi mati. Banyak petani merugi. Akibatnya, pada tahun ini hampir tidak ada lagi petani yang bersedia mengikuti program IP 200," ujarnya.