
“Kalau dibangun menggunakan dana desa untuk membuat turap, anggarannya tidak cukup. Apalagi saat ini keuangan dana desa jauh berkurang,” katanya.
Sebagai langkah darurat, pemerintah kepenghuluan telah memasang carocok untuk memperlambat laju abrasi. Namun, penanganan permanen dinilai tetap diperlukan agar kerusakan tidak semakin meluas.
“Persoalan abrasi ini tidak sekadar menyangkut kerusakan badan jalan. Jika abrasi terus bergerak menuju konstruksi jalan, akses transportasi warga dapat terganggu dan keselamatan pengguna jalan ikut terancam,” jelas Rusli.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir segera melakukan penanganan teknis terhadap abrasi tersebut, terutama dengan membangun turap di sepanjang sisi Jalan KH Kama yang terdampak.
“Kami berharap kepada Pemkab Rohil agar dapat segera ditindaklanjuti melalui penanganan teknis yang lebih permanen dengan membangun turap di sepanjang Jalan KH Kama yang mengalami abrasi, sehingga abrasi tidak berkembang menjadi kerusakan jalan yang lebih parah,” pungkasnya.***