
Menurut Abdurrahman Syaufi, sejarah pelaksanaan haul di Sungai Pinang berawal pada tahun 1926 Masehi. Saat itu, Tuan Guru Basilam jatuh sakit. Syekh Fakih Tambak kemudian menyampaikan kabar tersebut kepada Syekh Muda Madlawan agar datang ke Basilam.
“Ketika itu di Basilam juga ada Syekh Yahya Afandi, anak tertua Tuan Guru Basilam. Setibanya di sana, Syekh Muda Madlawan memangku Tuan Guru yang sedang sakit. Tuan Guru Basilam wafat di pangkuan beliau,” tutur KH Abdurrahman.
Suasana duka menyelimuti Basilam saat itu. Anak-anak Tuan Guru yang tengah bertafakur kemudian menyadari bahwa Syekh Muda Madlawan adalah sosok yang menghantarkan Tuan Guru ke peristirahatan terakhirnya.
“Dalam suasana duka itu, Syekh H. Yahya Afandi bertitah agar Syekh Muda Madlawan melaksanakan Haul Tuan Guru di Sungai Pinang,” lanjutnya.
Awalnya, permintaan tersebut ditolak karena keterbatasan ekonomi. Syekh Muda Madlawan mengaku tidak sanggup menggelar haul besar yang membutuhkan biaya untuk menjamu para tamu. Namun, Syekh Yahya menenangkan beliau.