
PEKANBARU (PRo) – Enam tahun telah berlalu, namun Salma Betty (50) masih mengingat dengan jelas bagaimana pandemi Covid-19 menghentikan aktivitas para pengrajin tenun di Kelurahan Limbungan, Kecamatan Rumbai Timur, Kota Pekanbaru. Cobaan belum berakhir. Setahun kemudian, banjir besar menerjang kawasan Rumbai dan nyaris mengubur harapan para pengrajin yang menggantungkan hidup dari selembar kain tenun.
Alat tenun, benang, serta berbagai perlengkapan produksi tak sempat diselamatkan. Seluruhnya rusak akibat terendam banjir, seolah menghapus jejak perjuangan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.
Meski demikian, peristiwa tersebut tidak mematahkan semangat para perempuan pengrajin tenun. Kini, Kelompok Tenun Srikandi Serumpun Limbungan Gemilang kembali bangkit dan produktif. Tidak hanya berupaya melestarikan warisan budaya Melayu, mereka juga berkomitmen meningkatkan perekonomian keluarga dan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Semangat kebangkitan itu mendapat dukungan dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui Program Pengembangan UMKM Ekonomi Pemuda dan Perempuan Crafting. Melalui program ini, PHR mengajak para penenun yang sempat vakum untuk kembali berkarya, menyelamatkan alat tenun yang masih layak digunakan, sekaligus menyediakan berbagai kebutuhan produksi.
"Dukungan tersebut menjadi angin segar bagi kami untuk kembali berkarya dan menghidupkan potensi lokal yang sempat nyaris tenggelam," ujar Salma Betty, penggerak Kelompok Tenun Srikandi Serumpun Limbungan Gemilang.