
“Forum diskusi kemasjidan ini kami laksanakan di tiga masjid sebagai bagian dari safari dakwah Pejuang Subuh Rohil,” ujar Ustadz Sayid.
Ia menambahkan, dari rangkaian forum tersebut, rombongan memperoleh banyak pelajaran berharga. Dari Masjid Jogokariyan, rombongan mempelajari bagaimana masjid dikelola menjadi tempat yang nyaman bagi seluruh kalangan, baik orang dewasa maupun anak-anak, bahkan terbuka bagi nonmuslim.
Takmir Masjid Jogokariyan juga memaparkan pentingnya kemandirian ekonomi masjid melalui pengelolaan usaha. Masjid tersebut diketahui mampu membiayai puluhan pelaku UMKM, dengan sebagian hasil usaha dialokasikan untuk mendukung operasional dan program masjid.
“Dari Masjid Al-Falah Sragen, kami belajar tentang kolaborasi yang baik antara orang tua dan generasi muda dalam mengelola rumah ibadah, termasuk menyediakan konsumsi bagi para musafir,” jelasnya.
Sementara itu, Masjid Sejuta Pemuda Sukabumi dinilai memiliki konsep yang berbeda. Pengelolaan masjid dilakukan oleh anak-anak muda dengan rata-rata usia 25 tahun, yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan tidak semuanya berlatar belakang pendidikan agama.