
Menurutnya, kondisi jalan yang sebelumnya mulus kini berubah drastis. Saat musim hujan jalan menjadi licin, sedangkan pada musim kemarau menimbulkan debu yang mengganggu pengguna jalan.
"Kalau naik sepeda motor badan terasa pegal semua. Jalan Basira sekarang memang sudah tidak nyaman lagi," katanya.
Rudi menduga kerusakan jalan dipicu oleh tingginya intensitas kendaraan bertonase besar yang melintas setiap hari, termasuk truk pengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dan mobil tangki crude palm oil (CPO) menuju pabrik kelapa sawit (PKS).
"Hampir setiap hari truk besar keluar masuk PKS. Kalau kapasitas kendaraan tidak sesuai dengan kemampuan jalan, tentu jalan akan cepat rusak," ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Adi, warga lainnya. Ia menilai perbaikan jalan tidak akan bertahan lama apabila kendaraan yang diduga melebihi batas tonase masih bebas melintas.